Kamis, 2008 Agustus 28

Tanah Mars Kaya Bahan Bakar Roket

> Tekno - Sains
Minggu , 17 Agustus 2008 ,
Tanah Mars Kaya Bahan Bakar Roket
Kompas.com


UNTUK ketiga kalinya, wahana Phoenix Mars Lander kembali meneliti sampel tanah dari permukaan Mars. Sampel diambil dari lubang galian yang dikenal dengan sebutan Rosy Red.


SAMPEL tersebut telah diuji dalam ruang pemanggang TEGA (Thermal and Evolved-Gas Analyzer), salah satu instrumen yang dibawa Phoenix untuk mencari jejak air dan kandungan senyawa lainnya. Namun, lagi-lagi para ilmuwan harus menggetarkan sampel yang dikeruk karena menggumpal di dalam sekop.



Dari percobaan ketiga ini para ilmuwan akan memastikan apakah di dalam sampel tersebut terdapat senyawa perklorat yang terdeteksi instrumen lainnya. Perklorat adalah senyawa yang sangat reaktif dan mudah teroksidasi.



Selain mencari kandungan senyawa di tanah Mars, Phoenix juga telah melakukan pengukuran konduktivitasnya. Alat ukur yang menyerupai sendok garpu ditusukkan ke dalam tanah dan diukur berapa besar energi yang dibutuhkan agar listrik mengalir dari ujung ke ujung.



Phoenix juga memperlebar lubang galian di sekitarnya untuk menyiapkan sampel berikutnya. Pencarian air dan senyawa organik menjadi target misi yang diperpanjang dari akhir Agustus mejadi 30 September.



Meski tanah Mars mengandung senyawa perklorat yang berbahaya sesuai analisis terbaru, bukan mustahil ada kehidupan di sana. Sebab, senyawa reaktif yang sangat mudah teroksidasi itu tidak selamanya membahayakan makhluk hidup.



Perklorat yang juga ramuan utama bahan bakar roket terdeteksi untuk pertama kalinya pada sampel tanah Mars saat wahana Phoenix Mars Lander melakukan analisis kimia untuk kedua menggunakan instrumen MECA.



Jejak perklorat ditemukan pada dua sampel tanah terakhir, namun tidak ditemukan pada sampel pertama yang diambil dari lokasi sekitar pendaratnnya di dekat kutub utara planet merah tersebut.



"Kita tahu bahwa mikroba dapat hidup dengan baik dalam kondisi yang mudah terjadi oksidasi," ujar Richard Quinn, ilmuwan dari Pusat Penelitian Ames milik NASA. Misalnya, lanjut dia, di wilayah kering sekitar Gurun Atacama, Chili. Di kawasan tersebut ditemukan sumber perklorat yang terbentuk secara alami dan dihuni mikroba ekstrim yang menggunakannya sebagai sumber energi.



Ia mengatakan, hal yang sama mungkin saja terjadi di Mars. Ditemukannya perklorat, menurutnya justru semakin menambah eksotis tanah Mars, meski tidak seramah perkiraan sebelumnya yang disebut-sebut dapat ditanami asparagus, kacang hijau, dan sejenisnya.



"Dalam hal ini, tidak bagus dan tidak buruk untuk hidup," ujar Peter Smith, ketua ilmuwan dari Universitas Arizona, AS yang memantau misi Phoenix.
Meski sejumlah mikroba tahan terhadap perklorat, sebagian besar makhluk hidup tidak membutuhkannya sama sekali dan cenderung merusak. Ilmuwan yang mencari bentuk kehidupan tidak pernah berharap menemukan perklorat.(kcm)




Beracun Tapi Stabil
DI Amerika Serikat, perklorat dikenal sebagai bahan pencemar yang ditemukan pada perairan di 25 negara bagian.
Berdasarkan data badan pengendali lingkungan (EPA), perklorat bersifat racun yang dapat mempengaruhi fungsi kelenjar thyroid dan mengganggu pertumbuhan bayi.



"Meski berbahaya saat larut di dalam air, perklorat tergolong stabil di tanah dan tidak bereaksi dengan bahan organik kecuali ada pemicunya," ujar David Parker, pakar geokimia dari Universitas California di Riverside.
Fakta-fakta itulah yang kembali memacu para ilmuwan untuk bersemangat mencari jejak kehidupan di Mars.(kcm)




Energi Ramah di Perut Bulan
MASIH terkait energi alternatif, bahan galian yang diambil dari perut bulan juga diyakini mengandung helium-3 yang jarang terdapat di bumi.
Helium-3 adalah salah satu isotop unsur gas yang secara teori dapat dipakai sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Proses konversi menjadi listrik bahkan lebih ramah lingkungan yang ramah karena hanya menghasilkan sedikit limbah.



Penggunaan helium-3 berbeda dengan uranium. Pembangkit listrik tenaga nuklir yang menggunakan uranium dilakukan melalui reaksi fisi, di mana inti atom dibelah-belah menjadi lebih kecil untuk melepaskan energi. Sementara helium-3 dapat dipakai dalam reaksi fusi di mana inti atom-atomnya yang bertabrakan membentuk inti atom baru lebih besar dan melepaskan energi.



"Ia merupakan sumber energi yang lebih bersih dan aman daripada bahan bakar nuklir," ujar Gerald Kulcinski, Direktur Institut Teknolog Fusion di Universitas Winconsin, Madison, AS.



Sekitar 40 ton helium-3 cukup untuk memasok kebutuhan energi di seluruh AS selama setahun.
Sejumlah negara yang telah memulai program eksplorasi Bulan seperti Cina, Rusia, dan India telah menjadikan helium-3 sebagai target sumber energi masa depan untuk program ruang angkasanya.



Namun, membangun reaktor fusi lebih sulit daripada reaksi fisi karena menbutuhkan energi awal yang sangat besar. Sementara saat ini, belum ada satu pun reaktor fusi yang beroperasi di bumi, kecuali satu prototip yang tengah dibangun, yakni ITER, kependekan dari International Thermonuclear Experimental Reactor di Cadarache, Prancis baru akan beroperasi mulai 2016 dan mulai menghasilkan energi 20 tahun kemudian. Bahan baku yang digunakan di sana bukan Helium-3 melainkan deuterium dan tritium. (kcm)

sumber: tribun jabar

0 komentar: